Sosok Raden Saleh sudah menjadi legenda. Drama hidupnya tampak tak jauh
beda gemuruhnya dengan drama-drama lukisannya. Ada yang ditikam, ada yang
menikam. Ada yang mengejar dan tampak yang dikejar-kejar. Terus dikejar dan
diburu, itulah nasib lukisannya.
Dalam buku yang disusun Lev Dyomin, Zagadocny Princ, Raden Saleh I Ego Wremya
(Pangeran Ajaib, Raden Saleh dan Zamannya) yang dicetak oleh penerbit Rusia.
Kala itu, pertengahan abad XIX, dunia seni lukis atau seni gambar para bumiputera
masih mengacu pada gaya tradisional yang berkembang di daerah-daerah, dan
sebagian terbesar menyimpan potensi dekoratif. Misalnya lukisan Bali, Jawa,
ornamen di Toraja atau Kalimantan. Raden Saleh berkibar sendiri dengan gaya
lukis fotografis, gaya seni lukis Barat. Ia memang belajar di Barat, di antaranya
membuat easelpainting atau lukisan dalam bentuk pigura.
Raden Saleh mampu menampilkan tema berbeda dari seni lukis Indonesia, yang
oleh masyarakat Barat dinilai berunsur "religius-kontemplatif-abstrak",
bersifat keagamaan, bersamadi, lepas dari kebendaan. Ia memang pelukis objek
alam dan kehidupan hewan, khususnya kuda dan binatang buas. Ia juga dianggap
mumpuni dalam mencoretkan garis wajah dalam lukisan potret.
Kesukaannya hanya menggambar
Raden Saleh Sjarif Bestaman lahir tahun 1807, tanpa diketahui tanggal dan
bulannya, dari wanita Mas Adjeng Zarip Hoesen. Sejak usia 10 tahun, anak dari
Terbaya (dekat Semarang) ini diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada
orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Anak sopan itu menonjol dengan kesukaannya
menggambar. Sewaktu di sekolah rakyat (Volks-School) saat guru mengajar, ia
malah menggambar. Gurunya tak marah, karena ia kagum melihat karya muridnya.
Keluwesannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga
elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri
Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan
untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di
departemennya.
Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang
didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk
hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Tertarik pada bakat Raden
Saleh, Payen berinisiatif memberikan bimbingan.
Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun
mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden
Saleh menyelami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya
melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan
dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan
Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.
Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan
agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Konon usul ini didukung oleh Gubernur
Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819 - 1826), setelah ia
melihat karya "ajaib" Raden Saleh. Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan
patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal de Kock, Capellen membiayai
Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain.
Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis,
selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan
Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, bahasa Jawa,
dan bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.
Terkapar bersimbah darah
Semasa belajar di Belanda keterampilannya berkembang pesat.
Wajar ia dianggap saingan berat sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar.
Mereka pun berniat "memberi pelajaran". Para pelukis muda itu mulai
melukis bunga. Lukisan bunga yang sangat mirip aslinya itu pun diperlihatkan
ke Raden Saleh. Terbukti, beberapa kumbang serta kupu-kupu terkecoh untuk hinggap
di atasnya. Seketika keluar berbagai kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas
dan terhina, diam-diam Raden saleh menyingkir.
Ketakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya
cemas. Muncul praduga, pelukis Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa.
Segera mereka ke rumahnya. Benar, pintu rumahnya terkunci dari dalam. Prasangka
mereka makin buruk. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka
saling jerit. "Mayat Raden Saleh" terkapar di lantai berlumuran darah!!
Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. "Lukisan
kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu
manusia", ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun ngeloyor
pergi, menanggung malu.
Itulah salah satu pengalaman menarik Raden Saleh sebagai cermin
kemampuannya. Dua tahun pertama ia pakai untuk memperdalam bahasa Belanda dan
belajar teknik mencetak menggunakan batu. Sedangkan soal melukis, selama lima
tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelius Krussemen dan tema pemandangan
dari Andreas Schelfhout karena karya mereka memenuhi selera dan mutu rasa seni
orang Belanda saat itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima
pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.
Raden Saleh makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup.
Ia mulai dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam.
Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda terperangah. Prasangka mereka,
"Lain Barat, Lain Timur" gugur seketika. Mana sangka pelukis muda
dari Indie itu dapat menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.
Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan
agar boleh tinggal lebih lama untuk belajar "wis-, land-, meet- en werktuigkunde
(ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam perundingan antara
Minister van Kolonieen, Raja Willem I (1772 - 1843), dan pemerintah Hindia Belanda,
ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia. Tapi sokongan uang dari kolonial
kas Nederland dihentikan.
Saat pemerintahan Raja Willem II (1792 - 1849) ia mendapat
dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah
ilmu, misalnya Dresden, Jerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan
status tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman (1843).
Ia kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan
Belanda.
Di Eropa tetap berblangkon
Tapi, jiwa seninya belum terpuaskan. Seni lukis Belanda, baginya,
tidak menempuh jalan sendiri, tetapi selalu mengekor aliran di Prancis. Wawasan
seninya pun makin berkembang seiring dengan terbitnya kekaguman pada karya tokoh
romantisme Eugene Delacroix (1798 - 1863), pelukis Prancis legendaris. Ia pun
intens terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif
manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati unsur-unsur
dramatika yang ia cari.
Saat di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848
di Paris, yang mau tak mau mempengaruhi dirinya. Dari Perancis ia bersama pelukis
Prancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan
di tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di
padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa
buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi: Austria
dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 ketika ia pulang ke tanah
air bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.
Tak banyak catatan sepulangnya di tanah air. Ia dipercaya menjadi konservator
pada Lembaga Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni. Beberapa lukisan potret keluarga
keraton dan pemandangan menunjukkan ia tetap berkarya. Yang lain, ia bercerai
dengan istri terdahulu lalu menikahi gadis keluarga ningrat keturunan Keraton
Solo.
Di Batavia ia tinggal di vila di sekitar Cikini. Gedungnya
dibangun sendiri menurut teknik sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelukis.
Sebagai tanda cinta terhadap alam dan isinya, ia menyerahkan sebagian dari halamannya
yang sangat luas pada pengurus kebun binatang. Kini kebun binatang itu menjadi
Taman Ismail Marzuki. Sementara rumahnya menjadi RS Cikini, Jakarta.
Tahun 1875 ia berangkat lagi ke Eropa bersama istrinya dan
baru kembali ke Jawa tahun 1878. Selanjutnya, ia menetap di Bogor sampai wafatnya
pada 23 April 1880 siang hari, konon karena diracuni pembantu yang dituduh mencuri
lukisannya. Namun dokter membuktikan, ia meninggal karena trombosis atau pembekuan
darah.
Tahun 1883, untuk memperingati tiga tahun wafatnya diadakan pameran-pameran
lukisannya di Amsterdam, di antaranya yang berjudul Hutan Terbakar, Berburu
Kerbau di Jawa, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan-lukisan itu dikirimkan
antara lain oleh Radja Willem III dan Pangeran Van Saksen Coburg-Gotha.
Memang banyak orang kaya dan pejabat Belanda, Belgia, serta
Jerman yang mengagumi pelukis yang semasa di mancanegara tampil "aneh"
dengan berpakaian adat ningrat Jawa lengkap dengan blangkon. Di antara mereka
adalah bangsawan Saksen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah gubernur
jenderal seperti van den Bosch, Baud, dan Daendels.
Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, yang kemudian selalu
ia sematkan di dada. Di antaranya, bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon
(R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.), Ridder der
Kroonorde van Pruisen (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), dll.
Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan tahun
1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam
Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Ujud perhatian lain
adalah, pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban
atas perintah Presiden Soekarno, sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi
benda berharga negara, misalnya akhir tahun 1967, PTT mengeluarkan prangko seri
Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya bergambar binatang buas yang sedang
berkelahi.
Penganut romantisme
Mungkin Raden Saleh memang ditakdirkan untuk selalu "dekat"
dengan orang Belanda. Mulai dari bekerja melukis, belajar melukis secara modern,
melanglang Eropa, plus pesanan melukis, semua karena bantuan orang-orang Belanda.
Apa karena itu sampai akhir hayat ia memilih predikat sebagai
pelukis Kerajaan Belanda? Seperti tertulis pada prasasti makamnya di Bondongan,
Bogor, "Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda."
Kalimat di nisan itulah yang sering melahirkan banyak tafsir yang memancing
perdebatan berkepanjangan tentang visi kebangsaan Raden Saleh. Namun, soal nasionalis
atau tidak seorang pelukis macam Raden Saleh, tidaklah terlalu penting, kecuali
sebagai bagian kehidupan yang mempengaruhi setiap karyanya.
Seperti halnya kekagumannya pada Delacroix. Tokoh romantisme ini dinilai mempengaruhi
karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya.
Itu tak aneh, karena saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad XIX, Raden
Saleh tinggal dan berkarya di Prancis (1844 - 1851).
Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang
mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan
(religiositas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang
dirintis pelukis Prancis Gerricault (1791 - 1824) dan Delacroix ini diungkapkan
dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna
abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.
Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden
Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia
yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng,
dll.
Akhirnya, Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga
mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah
Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang
penindasan.
Wajar bila muncul pendapat, meski menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan
mengkritik politik represif pemerintah Hindia Belanda. Ini diwujudkannya dalam
lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Meski serupa dengan karya J.W. Pieneman, ia memberi interpretasi yang berbeda.
Lukisan Pieneman menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri
dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan
tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal De Kock berdiri
berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.
Rupanya, Raden Saleh ingin mengoreksi. Di lukisan yang selesai
dibuat tahun 1857 itu pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri
khas Diponegoro, pun tak ada. Ini menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan
Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun,
perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena jenderal De Kock
tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran
Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya
yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam
tasbih.
Lukisan tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh
Jendral De Cock pada tahun 1830 yang terjadi di Rumah Kediaman Residen Magelang.
Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap
menghormat menyaksikan suasana tragis tersebut bersama-sama pengikut Pangeran
Diponegoro yang lain. Jendral De Cock pun kelihatan sangat segan dan menghormat
mengantarkan Pangeran Diponegoro menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat
pembuangan.
Pada saat penangkapan itu, beliau berada di Belanda. Setelah
puluhan tahun kemudian kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa
tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro. Dari usaha dan karya tersebut, tidaklah
terlalu berlebihan bila beliau mendapat predikat sebagai Pahlawan Bangsa. Akhirnya,
reputasi karya yang ditunjukkan oleh prestasi artistiknya, membuat Raden Saleh
dikenang dengan rasa bangga. Drama-drama yang dicoretkan di kanvasnya dengan
gegap gempita, menghapus gelombang drama yang mengombang-ambingkan namanya semasa
hidup.
Dari beberapa yang masih ada, salah satunya lukisan kepala
seekor singa, kini tersimpan dengan baik di Istana Mangkunegaran, Solo. Lukisan
ini dulu dibeli seharga 1.500 gulden. Berapa nilainya sekarang mungkin susah-susah
gampang menghitungnya. Sekadar perbandingan, salah satu lukisannya yang berukuran
besar, Berburu Rusa, tahun 1996 terjual di Balai Lelang Christie's Singapura
seharga Rp 5,5 miliar!
Berkat Raden Saleh, Indonesia boleh berbangga melihat karya anak bangsa menerobos
museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, dan dipamerkan di museum
bergengsi Louvre, Paris, Prancis.
[dari : berbagai sumber]