PROFIL
TOKOH :.
8 2003 -1:01
Prof Mr Sunario Tokoh Sumpah Pemuda, dan Manifesto Politik 1925
MENURUT Prof Sartono Kartodirdjo sebetulnya Manifesto Politik
yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda tahun 1925 lebih
fundamental dari Sumpah Pemuda 1928. Manifesto Politik 1925 itu pada intinya
berisi prinsip perjuangan yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan
liberty (kemerdekaan). Sedangkan Sumpah Pemuda sebagaimana ada pada memori kolektif
bangsa ini hanya menonjolkan persatuan. Paling tidak demikianlah yang tertanam
dalam memori kolektif masyarakat Indonesia selama ini melalui slogan populer
"satu nusa, satu bangsa, satu bahasa".
Satu-satunya tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak
sejarah nasional itu adalah Prof Mr Sunario. Ketika Manifesto Politik itu dicetuskan
ia menjadi Pengurus Perhimpunan Indonesia bersama Hatta. Sunario menjadi Sekretaris
II, Hatta bendahara I. Akhir Desember 1925, ia meraih gelar Meester in de rechten,
lalu pulang ke Indonesia. Aktif sebagai pengacara, ia membela para aktivis pergerakan
yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda. Ia menjadi penasihat panitia Kongres
Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Dalam kongres itu Sunario
menjadi pembicara dengan makalah "Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia".
Kesamaan dengan Hatta
Tahun ini diperingati secara meriah melalui pameran foto, penerbitan buku dan
diskusi di berbagai kota di Indonesia, satu abad kelahiran Bung Hatta. Padahal
Sunario juga lahir pada tahun yang sama dengan Hatta dan hanya terpaut beberapa
hari (Hatta di Bukittinggi 12 Agustus, Sunario di Madiun 28 Agustus 1902). Keduanya
seperti dijelaskan, adalah pengurus Perhimpunan Indonesia tahun 1925. Pada tahun
itulah perhimpunan ini mengeluarkan Manifesto Politik yang sangat signifikan
itu.
Setelah Indonesia merdeka, Hatta menjadi wakil presiden, sedangkan Sunario menjadi
anggota dan kemudian Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Kedua
tokoh ini sama-sama pernah menjadi Menteri Luar Negeri (Menlu). Hatta merangkap
Menlu pada pemerintahan RIS (20 Desember 1949-6 September 1950). Aktif dan salah
seorang pendiri PNI, Sunario menjadi Menlu semasa kabinet Ali Sastroamidjojo
(30 Juli 1953-12 Agustus 1955).
Hatta adalah penggagas politik luar negeri yang bebas aktif. Pidato terkenalnya
yang berkait dengan hal ini adalah Mendayung di antara Dua Karang. Politik luar
negeri yang bebas aktif itu dijabarkan Sunario secara nyata. Ketika menjadi
Menlu dilangsungkan KAA (konferensi Asia Afrika) di Bandung tahun 1955 yang
menghasilkan Dasa Sila Bandung. Sunario juga menandatangani Perjanjian tentang
Dwi kewarganegaraan etnis Cina dengan Chou En Lai, persoalan yang sampai kini
tetap krusial.
Hatta mundur sebagai wakil presiden Desember 1956. Pada tahun yang sama Sunario
ditunjuk menjadi Duta Besar di Inggris (sampai tahun 1961). Setelah itu Sunario
diangkat sebagai guru besar politik dan hukum internasional, lalu menjadi Rektor
Universitas Diponegoro, Semarang (1963-1966). Setelah sama-sama pensiun, kedua
tokoh ini kembali bertemu dalam Panitia Lima tahun 1974. Panitia itu dibentuk
pemerintah karena muncul kehebohan di kalangan masyarakat tentang siapa sebetulnya
penggali Pancasila. Panitia ini diketuai Bung Hatta. Anggota lainnya adalah
Ahmad Subardjo, AA Maramis, Sunario, dan AG Pringgodigdo. Ketiga anggota pertama
adalah tokoh yang ikut merumuskan Piagam Jakarta tahun 1945.
Tahun 1925 diterbitkan buku Uraian Pancasila oleh Panitia Lima. Bung Karno
diakui sebagai tokoh yang pertama berpidato dan mengungkapkan nama Pancasila
sebagai dasar negara. Namun, dalam pidato Soekarno, sila Ketuhanan itu tercantum
pada urutan terakhir. Itulah yang di balik dalam perumusan naskah Pancasila
oleh founding fathers kita. Sila Ketuhanan (ditambah ungkapan Yang Maha Esa)
diletakkan pada urutan pertama. Sila-sila lain hanya menyangkut perubahan istilah.
Panitia Lima termasuk Bung Hatta dan Sunario menganggap, sila pertama merupakan
fundamen moral sedangkan keempat sila lainnya adalah fundamen politik. Sendi
moral harus ditempatkan di atas sendi politik. Bukan sebaliknya, sebagaimana
terjadi terutama belakangan ini.
"Qu'est-ce qu'une nation?"
Sunario Sastrowardoyo yang beragama Islam dan berasal dari Jawa Timur ini menikah
dengan gadis Minahasa beragama Protestan yang ditemuinya saat berlangsung Kongres
Pemuda 1928. Perkawinan ini awet, mereka hanya terpisahkan oleh maut. Sunario
wafat 1997 dan istrinya tiga tahun lebih awal. Bakat politik menurun kepada
salah seorang putrinya, Prof Astrid Susanto, yang setelah lama berkarier di
Bappenas kini menjadi anggota DPR.
Kakek dari bintang sinetron Dian Sastrowardoyo ini terkenal sederhana, setelah
pensiun ia mengajar di beberapa perguruan tinggi. Tidak punya mobil sendiri,
dari rumah di Jalan Raden Saleh, Jakarta, ia pergi ke kampus naik bis kota atau
bajaj. Sempat membuat heboh pejabat Departemen Luar Negeri ketika suatu saat
Sunario yang mantan Menlu ini datang ke Pejambon dengan naik sepeda.
Pelajaran utama yang selalu diajarkan kepada anak-anaknya serta dijalaninya
sendiri adalah hidup jujur. Kenapa harus jujur? Alasannya sederhana, supaya
malam hari bisa tidur nyenyak. Barangkali itulah salah satu resep panjang umur
tokoh yang sempat mengecap usia di atas 90 tahun.
Salah satu hal yang menjadi obsesi tokoh nasionalis ini adalah persatuan bangsa.
Sejak dari negeri Belanda sampai proklamasi kemerdekaan, Sunario adalah tokoh
yang konsisten dengan pandangan tentang negara kesatuan. Ia keberatan dengan
dengan negara federal. Pidatonya dalam Kongres Pemuda mengutip filsuf Perancis
Ernest Renant yang kemudian pernah disitir Bung Karno. Artikel Qu'est-ce qu'une
nation? itu, lalu diterjemahkan Sunario ke dalam bahasa Indonesia menjadi Apakah
Bangsa Itu.
"Bangsa itu adalah hasil historis yang ditimbulkan deretan kejadian
yang semua menuju ke satu arah. Setelah menguraikan masalah ras, bahasa, agama,
persekutuan kepentingan bersama, keadaan alam, Renant menyimpulkan, bangsa itu
merupakan keinginan untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble)."
"Bangsa itu seperti individu-individu merupakan hasil masa silam yang
penuh usaha, pengorbanan, dan pengabdian. Jadi bangsa itu adalah suatu solidaritas
besar yang terbentuk karena adanya kesadaran bahwa orang telah berkorban banyak
dan bersedia untuk memberikan pengorbanan lagi."
Saat bangsa ini sedang terancam disintegrasi perlu kita kenang kembali pemikiran
yang disampaikan Prof Mr Sunario dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.*
***Dr Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI.
Sumber: Kompas, 28 Oktober 2002
[Arsip
Tokoh Lainnya ... ]
|