PROFIL
TOKOH :.
7 2003 -1:07
KH Abdullah Gymnastiar Tawarkan Damai dan Manajemen Qalbu
KH Abdullah Gymnastiar, akrab disapa Aa Gym, mengajarkan sebuah konsep baru
Syiar Islam. Manajemen Qalbu yang menawarkan diri untuk mengajak orang
memahami hati atau qalbu, diri sendiri, agar mau dan mampu mengendalikan diri
setelah memahami benar siapa dirinya sendiri. Ia kiyai yang disambut haru dengan
tetesan air mata dan pelukan oleh umat Muslim maupun Kristen di Palu, daerah
yang masih diwarnai konflik itu.
Pada tablig akbar yang diikuti lebih 10 ribu jemaah --termasuk
warga Kristiani -- di Masjid Agung Darussalam Palu—ia mengatakan setiap
perilaku manusia tergantung hatinya. Menurut AA Gym, sapaan akrab Gymnastiar,
jika buta mata hanya tidak melihat dunia, tetapi jika hatinya yang buta tidak
bisa lagi melihat kebenaran. "Mereka inilah yang kacaukan bangsa ini,"
tuturnya dengan lantunan lagu. Setelah tablig akbar di Poso, Aa Gym juga
berceramah (siraman rohani) di hadapan komunitas kristiani di Tentena.
Kehadiran KH A Gymnastiar di Poso, sangat menyejukkan bagi
kedua kelompok bertikai di daerah itu. Diharapkan suasana ini dapat mengugah
kembali pengikut kedua agama terbesar di daerah itu dapat hidup berdampingan
secara damai di bawah payung Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Toleransi kehidupan antarumat beragama di Poso
tercabik-cabik akibat konflik yang hanya berawal dari peristiwa remaja yang
mabuk-mabukan, kemudian meluas hingga menjerumuskan umat muslim dan kristiani ke
dalam peritikaian yang mengenaskan.
Konflik itu mulai mereda setelah Menko Kesra Yusuf Kalla
memprakarsai pertemuan pemuka agama dan tokoh masyarakat Poso di Kota kecil
Malino, Sulawesi Selatan, yang kemudian melahirkan Deklarasi Malino Damai untuk
Poso. Tetapi masih saja ada tembakan dan ledakan bom yang bisa memicu kerusuhan.
Dalam beberapa kesempatan, Pemimpin Popes Daurut Tauhid
Bandung itu mengemukakan perbedaan golongan dan agama merupakan rahmat. "Nikmatilah
perbedaan itu dengan mencari titik persamaannya, yakni kita semua sama-sama
bangsa Indonesia yang ingin maju".
Menurutnya, terjadinya kerusahan di sejumlah daerah di
Indonesia ini, karena rakyat Indonesia masih suka menonjolkan golongannya dan
menganggap golongan lain tidak benar. Seharusnya, dengan adanya perbedaan
tersebut justru bisa memperkuat dan mempersatukan bangsa ini, dan tidak
sebaliknya berpecah belah saling mempertahankan prinsip, padahal semua itu
sama-sama bangsa Indonesia.
Untuk menikmati perbedaan tersebut, Aa Gym mencontohkan
bangunan beton, yang campurannya terdiri atas semen, besi, batu krikil, dan air,
tapi bisa berdiri dengan kokoh dan kuat, karena bahan-bahan yang di dalamnya
tidak saling menonjolkan diri. Demikian juga bangsa ini bisa kokoh dan kuat
serta tidak bisa diadu domba dan 'dijajah' oleh bangsa lain, harus kompak dan
tidak suka menonjolkan diri.
Ulama kondang ini, tampil di acara Sixty Minutes di TV NBC,
AS, bulan November 2002. Media televisi di AS itu tertarik menampilkan Aa Gym
karena ia dinilai menghadirkan sebuah nuansa Islam yang sejuk dan damai di
Indonesia. Nuansa islami yang dinilai sangat berbeda dengan isu dan pandangan AS
tentang Islam selama ini. Beberapa waktu lalu, koran New York Times dan majalah
Time juga menyajikan profil Aa Gym, berikut pandangan-pandangannya.
Manajemen Qalbu
Aa Gym mengajarkan sebuah konsep baru Syiar Islam yang menawarkan diri untuk
mengajak orang memahami hati atau qalbu, diri sendiri, agar mau dan mampu
mengendalikan diri setelah memahami benar siapa dirinya sendiri.
Orang sering lupa terhadap diri sendiri. Bahkan, orang selalu menyalahkan orang
lain jika terjadi sesuatu pada dirinya. Kalau dia sadar, semua yang terjadi dan
bakal terjadi bermula dari dirinya sendiri. Jika ingin jadi baik, tentu dia
harus berbuat baik. Contoh yang paling konkret adalah diri sendiri. Untuk itu,
mengenali dan memahami diri sendiri itu menjadi penting.
Dengan mengutip hadis Rasulullah SAW, KH Abdullah Gymnastiar – yang sering
disapa Aa Gym – ini, mengatakan, bahwa dalam diri manusia itu terdapat suatu
organ. Kalau organ itu baik, baik jugalah seluruh manusia itu. Tetapi, kalau ia
busuk, busuk pulalah seluruh manusia itu. Organ itu adalah hati.
Menurut Pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung ini, hati adalah
raja. Sehubungan dengan itu, dalam dakwahnya dia selalu menyampaikan arti
penting manajemen qalbu (hati). Sebab, bila seseorang memiliki hati yang baik,
maka akan baiklah perilakunya, yaitu perilaku yang dipenuhi rasa ikhlas dan
jujur.
Kejujuran adalah modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh
dedikasi, dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari. Dan, disiplin adalah
modal dasar untuk membentuk kader-kader unggul yang selalu haus prestasi.
Langkah seperti itulah yang diterapkan Aa Gym dalam membina para santrinya.
Kini dia menjadi salah satu pendakwah paling digemari di Indonesia. Bahkan
telah mulai melampaui popularitas KH Zainuddin MZ, terutama setelah dai sejuta
umat itu menjadi politisi lalu bertikai dan mendirikan partai baru.
Popularitas KH Abdullah Gymnastiar memang sedang berkibar. Anak tertua dari
empat bersaudara, yang dilahirkan di Bandung dengan nama Yan Gymnastiar, dari
pasangan Letkol (Pur) Engkus Kuswara dan Hj Yeti Rohayati itu kini kebanjiran
undangan untuk berdakwah di berbagai kota di seluruh pelosok tanah air.
Jadwalnya pun makin padat.
Dakwahnya tidak hanya disiarkan di televisi, juga disiarkan di berbagai radio
seperti di Jakarta, Bandung, Semarang dan Medan. Bahkan, banyak isi ceramahnya
yang sudah dibukukan, dibuat VCD (video compact disc), atau direkam di pita
kaset. Kini, hampir setiap hari, menjelang magrib, dia tampil di SCTV.
Sukses Aa Gym tak terlepas dari konsep barunya tentang syiar Islam. Dia
menyiarkan Islam dengan format yang sangat sederhana, lugas dan renyah. Dai muda
yang memulai karirnya pada 1990 itu kini menjadi pendakwah yang dikagumi hampir
semua lapisan masyarakat. Mulai remaja, ibu rumah tangga, hingga para eksekutif
perusahaan. Bahkan, BUMN seperti PT Telkom, Bank BNI, PT DI (Dirgantara
Indonesia), dan PT KAI sering mengundang dia agar memberikan ceramah rohani.
Setiap dia tampil berdakwah, ribuan orang berduyun-duyun ingin mendengar.
Pesantrennya di kawasan utara Bandung itu hampir setiap hari dipenuhi para
santri yang ingin mengaji, beriktikaf, dan mentoring.
Kemunculan Aa Gym menjadi fenomena dakwah di tengah krisis multidimensional
yang sedang melanda negeri ini. Bahkan, ajaran kesederhanaan hidup, kesahajaan,
pembenahan hati dari dalam diri sendiri yang dia sampaikan menjadi kebutuhan
santapan rohani sekaligus obat untuk kondisi masyarakat saat ini. "Semua
harus dimulai dari hati diri kita," katanya.
Karena itu, dia selalu mewanti-wanti jangan sampai apa yang disampaikan tidak
tecermin dalam diri sendiri. Tak lupa, dia menyebut keluarga adalah cermin dari
sukses dakwah yang dia sampaikan. "Keluarga jadi lingkup terkecil dari
orang yang mendengar dakwah kita. Jangan sampai kita sukses mengubah orang lain
dengan dakwah itu, tetapi keluarga tidak. Keluarga menjadi sangat penting bagi
saya," bebernya.
Suksesnya di bidang dakwah diikuti pula sukses di bidang pendidikan dan
bisnis. Dia berhasil mengelola Yayasan Pesantren Darut Tauhid di Jalan
Gegerkalong Girang No 38, Bandung. Pesantren yang dibangun di atas lahan seluas
tiga hektare itu tergolong modern dan multifungsi. Ada bangunan masjid 1.000
meter persegi, ada cottage 24 kamar berkapasitas 80 orang (khusus bagi orang tua
dan santri dari luar kota yang ikut pelatihan atau pesantren). Ada pula gedung
serbaguna, kafetaria, serta swalayan mini yang megah dan elite. Ribuan santri
belajar di sana.
Bidang usahanya antara lain, swalayan, warung telekomunikasi, penerbitan buku,
tabloid, stasiun radio, pembuatan kaset, dan VCD. Omzetnya miliaran rupiah.
"Bisnis ini dikelola dan juga jadi wahana para santri untuk
mengaktualisasikan jiwa dan pendidikan wirausahanya. Bukankah Rasulullah
menyuruh kita agar berada dalam tangan posisi di atas? Tak harus minta-minta.
Ini akan berhasil jika kita mampu membangun jiwa entrepreneurship dalam diri
kita sendiri," urainya.
Sosok Aa Gym memang bisa menjadi suri teladan. Dia muda, santri, sederhana,
namun bersahaja dan sukses di bidang usaha. Keteladanan memang sangat langka
pada masa kini.
Ketika tampil di depan para elite politik, pejabat negara, dan diplomat asing
pada malam peringatan Nuzulul Quran di Masjid Istiqlal belum lama ini, dai muda
yang menekankan kebersihan hati, manajemen qalbu sebagai trademark dakwahnya,
mengatakan, "Rakyat lebih terpesona kepada pemimpin bersahaja. Pemimpin
bangsa tak perlu pamer kemewahan. Melihat orang pakai mobil mewah dan punya
rumah mentereng, kita jadi enek. Bukan tidak boleh. Tapi, itu bisa menimbulkan
pertanyaan dari mana semua itu?" ucapnya kala itu.
Kisah Aa Gym
Lalu, siapakah Aa Gym yang setiap ceramahnya mampu membuat ribuan jemaahnya
mengucurkan air mata? Dan, bagaimana ia mengelola Pondok Pesantren Daarut Tauhid
sehingga menjadi rujukan beberapa lembaga dari sejumlah negara asing?
Pada tahun 1980-an di Garut, Jawa Barat, di sebuah rumah yang tertata rapi, di
sebuah dusun, tampak seorang lelaki muda tengah memperdalam pemahaman
spiritualnya di bawah bimbingan ajengan Junaedi. Hanya dalam tiga hari, lelaki
muda itu dinyatakan memiliki ilmu laduni (ilmu yang diberikan Allah Swt. kepada
hambanya yang beriman, tanpa melalui proses belajar). Untuk lebih meyakinkan
ucapan gurunya, lelaki muda itu kembali melanjutkan perjalanan spiritualnya
dengan berguru kepada beberapa ulama zuhud. Hasilnya sama, ia dinyatakan telah
dikaruniai ma'rifatullah.
Lelaki yang bernama Abdullah Gymnastiar itu mengaku sering merasakan keajaiban
yang sulit dicari penjelasannya. Setiap hari, dia mampu mengajar banyak orang
dengan materi yang mengalir begitu saja. Saat materi tersebut di cek dengan
kitab-kitab tafsir, ternyata isinya sama persis. "Terkadang saya mendapat
ilmu baru tatkala sedang menyampaikan ceramah di hadapan jemaah," ujarnya.
Berbekal ilmu laduni itu, ia mulai menyebarkan ajaran Islam kepada sesama
manusia melalui pengajian dan ceramah--baik secara langsung maupun menggunakan
media cetak dan elektronik. Langkah awal dakwahnya dimulai dengan membangun
Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tauhid (DT). Ide pembentukan DT terilhami oleh
keberhasilan gerakan Al-Arqom dari Malaysia yang sukses mengembangkan
kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari secara Islami. Tapi,
perbedaannya, DT tidak bersifat eksklusif seperti Al-Arqom. DT terbuka untuk
semua orang.
DT, yang berarti perkampungan atau rumah bagi orang-orang yang bertekad mengabdi
hanya kepada Allah Swt., dirintis dari usaha wiraswasta Aa Gym bersama
teman-temannya melalui lembaga Keluarga Mahasiswa Islam Wiraswasta (KMIW) pada
1987.
Saat itu, KMIW bergerak pada beberapa usaha kecil seperti pembuatan sticker,
t-shirt, gantungan kunci, dan stationary yang dilengkapi slogan-slogan religius.
Sebagian hasil usahanya digunakan untuk menopang dakwah, yaitu dalam bentuk
pengajian rutin untuk remaja dan umum di bawah bimbingan Agym.
Seiring dengan perkembangan usaha dan peningkatan jemaah pengajian, maka pada
1990 KMIW mendirikan DT di rumah orang tua Aa Gym. Beberapa waktu kemudian, DT
pindah lokasi ke Jalan Gegerkalong Girang 38. Di lokasi baru yang berupa rumah
pondokan dengan 20 kamar itu, Aa Gym menyewa dua kamar. Di sini gerakan dakwah
lelaki penggemar warna putih itu mendapat tantangan berat. Sebab, lokasi itu
dikenal sebagai markas "biang kerok" keresahan masyarakat. Dan, dengan
keteguhan jiwa, akhirnya lelaki yang pintar beradaptasi dengan lingkungan itu
berhasil mengontrak seluruh kamar yang ada. Bahkan, Agym berhasil membeli rumah
kontrakan tersebut langsung dari pemiliknya dengan harga Rp 100 juta.
Selanjutnya, pada 1993, Agym memperbaiki markasnya dengan membangun gedung
permanen berlantai tiga. Lantai satu digunakan untuk kegiatan perekonomian;
lantai dua dan tiga dijadikan masjid. Masjid DT itu sering disebut masjid seribu
tangan karena dibangun secara gotong royong oleh ribuan warga yang tinggal di
sekitar tempat tersebut dan jemaah DT.
Usaha Aa Gym berjalan lancar. Pada 1994, lelaki yang antirokok itu berhasil
mendirikan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) DT untuk menopang dakwahnya.
Dan, pada 1995, seorang jemaah membelikan sebidang tanah berikut bangunannya di
Jalan Gegerkalong Girang 30 D, sekitar 50 meter dari masjid. Bangunan itu lalu
digunakan sebagai kantor yayasan, kediaman pemimpin pondok, Taman Kanak-kanak
Al-Qur’an (TKA)/Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), ruang pertemuan, ruang
produksi konveksi, gudang, dan kamar para santri.
Menjelang akhir tahun 1997, sarana dakwah dan perekonomian lelaki yang kurang
suka pada pakaian batik itu bertambah lengkap setelah berdiri Gedung Kopontren
empat lantai di seberang masjid. Gedung yang cukup representatif itu digunakan
untuk kantor Baitul Mal wat-Tamwil (BMT), penerbitan dan percetakan, swalayan
dan mini market, warung telekomunikasi, pusat informasi, serta lain-lain.
Pada 1999, DT berhasil memiliki Radio Ummat yang mengudara sejak 9 Desember
1999, mendirikan CV House and Building (HNB), PT MQs (Mutiata Qolbun Salim), PT
Tabloid MQ, Asrama Daarul Muthmainnah 2000, Radio Bening Hati, dan membangun
Gedung Serba Guna. Sampai 1999, aset DT--yang semula tidak seberapa--telah
bernilai Rp 6 miliar.
Usaha ekonomi yang berjalan sukses tersebut ternyata sangat membantu Aa Gym
dalam menjalankan misi DT sebagai fasilitator pengembangan seluruh aktivitas
sosial, budaya, teknologi, dan pendidikan yang bernuansa Islam. Dan, kesuksesan
usaha ekonomi DT itu tercapai karena pengelolaannya menggunakan sistem keuangan
yang transparan, profesional, dan inovatif, ditambah kejujuran para santri.
Sifat jujur para santri itu tak terlepas dari peran sentral Agym dalam
menggembleng mereka.
Dalam mendidik atau menyampaikan sebuah materi ajaran agama, Aa Gym senantiasa
menekankan pentingnya pembenahan hati, atau yang sering disebut metode Manajemen
Qalbu. Manajemen Qalbu adalah upaya untuk mengatur dan memelihara kebeningan
hati dengan cara mengenal Allah. Salah satu caranya dengan berzikir. Selanjutnya,
hati yang damai itu diisi dengan nilai-nilai rohani Islam seperti sabar, rida,
tawakal, ikhlas, jujur, dan disertai dengan ikhtiar.
Menurut ustad yang tidak memiliki pembantu rumah tangga itu, hati adalah raja
yang dapat membuat manusia melakukan apa saja. "Kita banyak amal, tapi
kalau hatinya tidak ikhlas, ya tidak akan diterima," ujarnya. Bagi Aa Gym
yang fasih mendendangkan nasyid, suatu hal yang disampaikan dengan pikiran, maka
hanya akan menyentuh pikiran. Sedangkan apa yang disampaikan dengan hati yang
tulus, maka akan menyentuh relung hati pendengar yang paling dalam.
Pendapat itu terbukti kebenarannya. Sebab, di tiap pengajian yang ia adakan tiap
minggu di DT, meskipun hanya membahas materi ringan ternyata mampu menyejukkan
hati ribuan pendengarnya yang datang dari berbagai kota di Jawa Barat, bahkan
Jakarta. Malah, ketika ia ber-nasyid atau memanjatkan doa, banyak jemaah yang
tak kuasa membendung air matanya. "Terasa seperti sedang memutar rekaman
film dari tingkah laku saya sendiri. Benar-benar menyentuh hati ceramahnya,"
ujar salah seorang santrinya.
Selain diajari Manajemen Qalbu, para santri DT yang jumlahnya lebih dari lima
ribu orang itu juga harus mengikuti program Santri Quantum. Program ini
dirancang khusus untuk meningkatkan dan melipatgandakan kemampuan otak dalam
berpikir. Sebagai pelengkap, para santri juga digembleng kemampuan fisiknya,
sehingga daya tahan (endurance) mereka dalam aktivitas hidup sehari-hari bisa
optimal. "Di sini, seseorang dilatih untuk menjadi dirinya sendiri,"
ujar Agym dengan mantap.
Metode pendidikan ala Aa Gym itu berjalan sukses karena dalam pelaksanaannya
dijalankan dengan disiplin yang ketat. Bila ada santri yang salah, Aa Gym tak
segan-segan menjatuhkan sanksi. Biasanya, sanksi diberikan sesuai dengan
kemampuan orangnya, misalnya disuruh push up.
Secara umum, metode pendidikan yang menekankan arti penting zikir, pikir, dan
ikhtiar itu banyak menarik minat lembaga lain untuk mempelajarinya. Misalnya,
ada salah satu kesatuan TNI AD yang mengikuti pendidikan di pesantren itu selama
satu bulan. Hasilnya, disiplin mereka tidak kaku seperti robot lagi, tapi
berubah menjadi disiplin yang memiliki roh. Bahkan, banyak prajurit yang menjadi
rajin mengerjakan salat dan mulai meninggalkan kebiasaan merokok.
Juga ada beberapa lembaga dari luar negeri, seperti dari Australia, Jepang,
Mesir, dan Singapura, yang pernah melakukan studi banding tentang resep sukses
DT. Dan, kini, pengajian atau ceramah Aa Gym tidak lagi hanya diadakan di
Bandung dan Jakarta, tapi telah merambah ke kota-kota lain seperti Semarang,
Yogyakarta, Batam, dan Padang. Malah, ke luar negeri.
Selain terus berupaya meningkatkan kualitas para santrinya, Aa Gym yang semasa
muda menjadi penggemar musik country itu juga sangat peduli pada kebersihan,
keamanan, dan ketenteraman lingkungan sekitarnya. Untuk masalah kebersihan, Aa
Gym yang siap melayani umatnya kapan saja itu tak segan-segan memungut kertas
permen yang berserakkan di lingkungannya untuk dibuang ke tempat sampah. Dan, ia
menugaskan para santrinya untuk membersihkan lingkungan pesantren dari segala
macam sampah setiap hari Sabtu.
Sedangkan untuk membersihkan Bandung dari perbuatan maksiat dan perjudian, Aa
Gym bersama Satuan Santri Siap Guna tidak segan-segan turun langsung ke lapangan
guna mengingatkan para penjudi dan pelaku maksiat lainnya.
Keberaniannya tersebut ternyata membuatnya sering dimusuhi para bandar judi.
Tapi, semua itu tak membuat A Gym menyurutkan langkah dalam memerangi maksiat.
Sebaliknya upaya Agym ternyata berdampak positif. Kini, kawasan Pondok Pesantren
Daarut Tauhid menjadi kawasan bebas rokok dan wilayah teraman dan terbaik se-Jawa
Barat.
Agym, bertubuh ramping dengan sorot mata tajam itu terkenal murah senyum. Sejak
SMA, naluri bisnisnya telah berkibar. Saat itu, ia pernah berjualan roti, koran,
film, dan membuat percetakan.
Agym yang moto hidupnya adalah berprestasi bagi dunia dan akhirat itu menikah
dengan Ninih Mutmainah M. Dan, kini mereka telah dikarunia enam anak, yaitu
Ghaida Tsuraya, 13 tahun, M. Ghazali Al-Ghifari, 9 tahun, Ghina Rauddathul
Jannah, 9 tahun, Ghaitsa Shofa, 7 tahun, Ghefira Nur Fatimah, 5 tahun, dan M.
Ghaza Al-Ghazali, 2 tahun enam bulan.
Sebagai orang yang super sibuk, ia menerapkan manajemen keseimbangan. Menurutnya,
segalanya harus diukur secara proporsional. Sebab, setiap ketidakseimbangan
adalah kezaliman, sedangkan kezaliman dilarang oleh Islam. "Sesibuk apa
pun, menimang dan bercengkerama dengan anak harus dilakukan," ujar Agym
tenang.
Dalam mendidik putra-putrinya, penggemar kegiatan membaca itu selalu menekankan
arti penting kejujuran dan keikhlasan. Maksudnya, agar kita menjadi insan
bertakwa dan berprestasi. Atau, siapa tahu, mendapat karunia ilmu laduni seperti
Aa Gym?
Wawancara
Konsep baru syiar Islam yang ditawarkan Aa Gym adalah tentang manajemen qalbu (MQ).
Apa dan bagaimana MQ itu, berikut petikan wawancaranya dengan Widaningsih:
Apa sebenarnya konsep manajemen qalbu yang ditawarkan dalam pesan dakwah Anda?
Konsep manajemen qalbu itu sebuah konsep yang menawarkan diri untuk mengajak
orang memahami hati atau qalbu, diri sendiri, agar mau dan mampu mengendalikan
diri setelah memahami benar siapa dirinya sendiri.
(Dia lantas mengutip hadis Rasulullah SAW). Bahwa dalam diri manusia itu
terdapat suatu organ. Kalau organ itu baik, baik jugalah seluruh manusia itu.
Tetapi, kalau ia busuk, busuk pulalah seluruh manusia itu. Organ itu adalah hati.
Orang kadang lupa terhadap diri sendiri. Bahkan, orang selalu menyalahkan orang
lain jika terjadi sesuatu pada dirinya.
Kalau dia sadar, semua yang terjadi dan bakal terjadi bermula dari dirinya
sendiri. Jika ingin jadi baik, tentu dia harus berbuat baik. Contoh yang paling
konkret adalah diri sendiri. Untuk itu, mengenali dan memahami diri sendiri itu
menjadi penting.
Apakah format yang cantik dan penyampaian lugas serta bahasa sederhana jadi
resepnya sehingga pesan MQ yang Anda tawarkan begitu segar dan sangat menyentuh?
(Dia tertawa). Ada kalanya, beberapa pesan yang kita sampaikan harus berbentuk
sesuatu yang sangat familiar. Contoh-contoh konkret harus ada di sekitar kita
atau biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, bagaimana kita
butuh upaya untuk pengembangan pribadi, bagaimana membangun keluarga sakinah,
bagaimana membangun peradaban, atau bagaimana kita bisa meraih sukses.
Contoh nyata atas apa yang saya sampaikan juga harus tecermin dalam diri saya
sendiri. Bagaimana saya bisa mempengaruhi orang kalau saya sendiri tak berbuat
seperti itu.
(Lalu, Aa Gym bercerita tentang kiat suksesnya dengan mengutip ayat Alquran
Surat Al Qashash:77). Seorang mukmin yang kuat itu lebih dicintai Allah daripada
yang lemah. (Aa juga bertutur tentang keunggulan Nabi Muhammad). Sejak kecil,
beliau memiliki etos kerja yang tinggi dan profesional.
Dari contoh itu, saya hanya sedikit meramunya dengan kiat sukses yang dirumuskan
dalam rumus 7 T. Yakni tenang, terencana, terampil, tertib, tekun, tegar, dan
tawadlu (rendah hati).
Mengapa Anda sering menyampaikan pesan itu secara jenaka?
Ada kalanya, apa yang kita sampaikan sangat bergantung pada situasi yang terjadi.
Misalnya, saat pesan yang disampaikan berupa muhasabah atau perenungan, agar
jadi lebih baik, harus konsentrasi.
Tetapi, ada kalanya, kita juga menggunakan gurauan yang membuat orang bisa dan
perlu menertawakan diri sendiri. Gurauan itu punya makna sangat tinggi. Biar
orang bisa mengevaluasi dirinya sendiri. Walaupun tertawa, silakan menertawakan
diri sendiri.
Inti MQ itu upaya menyentuh hati atau tasawuf. Tapi, ada juga pendapat
tasawuf malah menghambat karena orang cenderung berserah diri. Komentar Anda?
Jujur saja, sebenarnya saya kurang begitu paham tentang tasawuf ini. Saya hanya
paham bagaimana Rasulullah mengajarkan dalam tubuh ini ada segumpal daging.
Kalau daging itu baik, baik pula sekujur tubuhnya. Jika buruk, buruk pula
sekujur tubuhnya itu. Segumpal daging itu dinamakan qalbu (hati).
Rasulullah mengatakan seperti itu. Dan, saya yakin, itu sebuah kebenaran. Jika
kita kemas dengan cara tepat dan profesional, ini akan berdampak bukan hanya
pada diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain sampai pada akhir hayat atau
kiamat nanti.
Apa betul, bangsa kita sedang sakit? Lantas, apakah penyembuhan hati ini
satu-satunya jalan?
Masyarakat Indonesia kini mengalami krisis multidimensional. Kembali menata hati
dan memulai perubahan pada diri sendiri menjadi kondisi psikologis dan kebutuhan
yang diperlukan masyarakat kita.
Tentu saja, itu bukan sebagai satu-satunya jalan. Tapi, saya pikir, penyembuhan
hati sangat penting, terutama karena perilaku orang ditentukan hatinya. Kalau
akal dan pikiran itu menunjukkan esensi, perbuatan untuk menjadikannya sebuah
nilai sangat bergantung pada hatinya.
Kita lihat, banyak orang pandai, tetapi tidak punya hati nurani. Ya, dia korupsi.
Korupsi itu bukan pekerjaan orang bodoh. Kerusakan negeri ini justru disebabkan
orang-orang yang mempunyai kemampuan berpikir, tapi hatinya kurang baik.
Ini yang harus kita sembuhkan. Jangan lupa, penduduk Indonesia itu lebih dari
250 juta orang. Ini merupakan aset yang luar biasa.
Apakah agama masih dianggap sebagai suatu solusi?
Itu harus. Agama pasti mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi bangsa
ini. Hanya, masalahnya, mengamalkan agama dan menyosialisasikannya harus
dilakukan terus-menerus, lebih inovatif, dan kreatif. Jadi, bisa diterima
masyarakat yang terus mengalami perubahan.
Yang terpenting pula, bagaimana mengaktualisasikan pemahaman agama itu dengan
benar dan konsisten. Dengan begitu, masyarakat bisa menerima agama sebagai suatu
solusi. Jangan hanya mengaku beragama, tetapi tindakan dan perilakunya justru
jauh dari agama itu. Kondisinya saat ini kan seperti itu. Banyak masyarakat yang
tidak konsisten dengan agamanya.
Jadi, peran ulama dan dai sangat penting? Kenyataannya, sangat jarang dai
seperti Anda. Banyak yang cenderung masih sangat konservatif dan ketinggalan
perkembangan di masyarakat?
Saya tidak berani menilai. Sebab, kapasitas pengetahuan dan pemahaman saya
tentang orang lain masih sangat terbatas. Namun, saya percaya, ulama itu harus
memiliki pemahaman soal agamanya dengan benar.
Dia harus bersungguh-sungguh dan konsisten dalam mengamalkan agamanya untuk
menjadi suri teladan umat. Tidak untuk kepentingan apa pun dan siapa pun,
kecuali Allah semata.
Allah SWT yang mengangkat derajat umat yang tidak takut siapa pun, kecuali takut
kepada Allah. Sepanjang hayatnya bersih untuk mengabdikan diri bagi kemaslahatan
umat. Kalau ulama berhati tulus dan pengamalannya benar, dia akan punya kekuatan
ruhiyah yang sangat tinggi.
Seorang ulama harus bisa menyajikan opini di masyarakat bahwa kebenaran itu
begitu indah dan bisa menjadi jalan keluar yang realistis bagi umat. Tentu, jika
melihat dinamika masyarakat yang terus berkembang dengan penggunaan perangkat
modern, misi itu bakal bisa menggugah dan mengubah masyarakat itu sendiri.
Anda membina pondok pesantren dengan cara amat modern. Terbukti, itu cukup
berhasil, termasuk di bidang bisnis. Misi itu tidak berbenturan?
Intinya begini. Untuk bisa berdakwah dengan baik, harus ada contoh nyata. Dengan
demikian, umat tidak hanya mendengar bagaimana Islam menjadi solusi. Kami
membuat Pesantren Darut Tauhid sebagai miniatur realitas.
Karena itu, kami bekerja keras untuk membuktikan bagaimana Islam benar-benar
bisa membuat orang sejahtera di bumi ini. Bahwa Islam juga sangat profesional.
Islam juga membuat kita mendapat dunia dan menikmati dunia dengan baik, tetapi
juga punya nilai yang bisa menjadi bekal di akhirat nanti. Dengan santri-santri
yang kita bina, Islam juga bisa membuktikan bagaimana cara berbisnis yang baik.
Pebisnis dengan hati dan mental yang baik itu kan yang kita perlukan. Dua sisi
yang saling melengkapi.
Itu berarti keseimbangan tetap harus ada?
Saya kira begitu. Metode manajemen qalbu yang saya tekankan di Pesantren Darut
Tauhid tersebut diarahkan untuk mencapai keberagamaan yang intrinsik.
Keseimbangan itu dibangun dalam praktik agama yang bersifat lahiriah dan
batiniah. Jadi, terwujud keseimbangan antara zikir, pikir, dan ikhtiar.
Islam membuat kita mendapat dunia dan menikmati dunia dengan baik. Tetapi, juga
punya nilai untuk bekal di akhirat dan punya nilai yang membuat orang
berinteraksi dengan dunia ini. Orang tidak tertipu hiruk-pikuk dunia sehingga
membuat orang terhina oleh dunia yang dimilikinya.
Kita punya dunia. Namun, kita harus jauh lebih bernilai daripada dunia yang kita
genggam itu sendiri. Ini yang ingin saya tekankan. *** (Tokoh Indonesia, dari
Jawa Pos dan berbagai sumber)
[Arsip
Tokoh Lainnya ... ]
|