Selama menjabat menteri, ia tergolong bersih dari KKN. Ia seorang yang telah
menjalani pergulatan hidup dalam berbagai kegiatan. Mulai dari merintis usaha
lalu jadi pengusaha, menteri dan kini mejadi petani. Ia boleh juga disebut
sebagai sosok kontroversial. Saat pengganyangan terhadap Bung Karno, ia adalah
mahasiswa ITB yang menjadi Wakil Komando Laskar Soekarno. Tapi pada era Presiden
Soeharto, ia malah diangkat sebagai menteri dalam dua kali kabinet.
Kendati kini ia tidak lagi menjabat menteri, masih saja ada orang yang
memanggil suami Ratih Gondokusumo (notaris) ini, Pak Menteri. Ayah Mutiara (30),
Savitri (27), Emeralda (meninggal dunia saat berusia 11 tahun), Rubyeta (14),
dan Pirousi (6) ini dikira masih menjadi pejabat, pengusaha, dan politikus.
Padahal ia kini bukan lagi pejabat, sudah menjadi petani. Sejak 1999 ia hanya
menjadi anggota MPR mewakili petani. Tidak banyak orang yang tahu bahwa
kesibukannya lebih banyak di pertanian. Orang masih lebih mengenal mantan Ketua
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (1973-1977) dan Ketua Persatuan Pengusaha Real
Estat Indonesia (1983-1986) ini, sebagai pejabat dan pengusaha.
Kini, jebolan Teknik Sipil ITB tahun 1968 ini fasih menerangkan bagaimana
mengawinkan domba, bagaimana memilih bibit domba unggul, dan bagaimana bercocok
tanam tembakau juga sayur mayur. Inilah bagian lain dari putaran roda hidup
mantan Menteri Negara Permumahan Rakyat (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi dan
Permukiman Perambah Hutan (1993-1998) itu.
Ia kini jadi petani! Dan, jangan kaget kalau suatu saat Anda berpapasan
dengannya bersepeda motor menyusuri jalan Jakarta-Sawangan, Kabupaten Bogor
untuk menengok salah satu peternakan domba seluas 20 hektar miliknya. Di sanalah
ia mengisi akhir pekannya.
Kesibukannya di seputar pertanian bukan hanya karena ia menjadi Ketua Umum
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sejak 1999 saja, namun sejak awal ia
sudah mengelola usaha tani. Sebelum Siswono bersama rekannya mendirikan CV
Bangun Tjipta Sarana yang sekarang sudah menjadi PT Bangun Tjipta Sarana, sebuah
kelompok usaha dengan bisnis inti konstruksi, ia telah berdagang bawang putih
dan kedelai saat diskors satu setengah tahun di ITB karena menjadi Wakil
Komandan Barisan Soekarno.
Ketika Bangun Tjipta didirikan dengan modal Rp 7,5 juta, ia hanya
mengkonsentrasikan di bisnis konstruksi. Awalnya bisnis yang dimulai dari garasi
milik orang tuanya di kawasan Menteng hanya mengerjakan proyek kecil seperti
memperbaiki WC hingga membuat rumah.
Dengan berkembangnya usaha hingga membangun jalan tol dan kawasan perumahan,
ia mulai membuka usaha pertanian dengan membuka perkebunan kelapa sawit di
Kalimantan Selatan. Selanjutnya diikuti dengan usaha kelapa sawit di Sumatera
Selatan, peternakan sapi di Sumbawa lalu pertanian terpadu di Kecamatan Bawen,
Kabupaten Semarang dan peternakan domba di Sawangan itu.
Perhatian pria kelahiran Long Iram, Kalimantan Timur 4 Juli 1943 ini terhadap
masalah pertanian makin kuat setelah tidak lagi berada di birokrasi dan ketika
masyarakat tani memilihnya sebagai Ketua Umum HKTI.
Masa kecilnya memang tak terlepas dengan suasana pertanian. Sewaktu SD dan
SMP di Kendal, sebuah kota kecil di barat Semarang. Daerah itu dikitari sawah
yang sangat luas. Teman-temannya anak petani yang kalau pulang sekolah, mereka
lalu menggembalakan kerbau sambil mamandang keindahan alam yang di sebelah
selatan tampak Gunung Perahu, Gunung Ungaran, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing.
Ia menyaksikan keluarga petani dengan kesederhanaan, keyakinan, ketekunan dan
kepasrahannya kepada alam. Lingkungan alam yang demikian itu membekas kuat di
hatinya. Tiga bulan sekali kalau tidak pulang ke kota itu, ia merasa ada
kerinduan.
Menurutnya, potensi Indonesia untuk mensejahterakan petani sangat besar dan
luar biasa. “Tetapi kita membiarkan petani hidup di bawah kelayakan skala
ekonomi,” katanya. Sekitar tahun 1950-an, petani memiliki sawah paling tidak
lima hektar. Ketika itu petani kalau sunatan sering nanggap wayang kulit sampai
tiga hari tiga malam. Petani itu kaya-kaya. Akan tetapi dengan perubahan
generasi terjadi fragmentasi lahan, dibagi ke anak-anaknya sehinga petani miskin.
Sekarang yang nanggap wayang kulit bukan lagi penduduk desa tetapi orang kota.
Ia berobsesi mengembalikan kondisi pertanian ini. Untuk itu, katanya,
pembangunan harus lebih seimbang antara pedesaan dan perkotaan. Sekarang ini
tidak ada pembangunan ke pedesaan yang menarik sehingga mereka pindah ke kota.
Soal skala ekonomi, sekarang petani sudah telanjur memiliki unit yang sangat
kecil.
Menurutnya, jika tidak ada langkah sistematis dan konsisten dipastikan
Indonesia akan semakin tergantung pada luar negeri dalam memenuhi kebutuhan
pangan. Produksi pertanian yang kini terus menurun tidak sebanding dengan
percepatan pertambahan penduduk. Hal itu membuat negeri ini jadi incaran asing,
agar semakin tergantung pangannya pada mereka.
Sesungguhnya, Indonesia berpotensi besar untuk memproduksi hasil pertanian.
Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa sehingga tidak ada alasan menjadi
importir pangan terbesar. Petani di negara lain seperti di Australia dan Amerika
Serikat merupakan orang kaya karena memiliki skala usaha ekonomi yang besar.
Masalahnya di Indonesia skala ekonomi usaha tani sedekimian kecilnya, sehingga
tidak memungkinkan mereka hidup sejahtera.
Petani harus bekerja dengan skala ekonomi yang mensejahterakan mereka.
Misalnya, jangan membiarkan peternak memelihara ayam 10 ekor karena paling tidak
beternak ayam itu harus 2.000 ekor. Jangan membiarkan beternak domba lima ekor,
paling tidak harus 50 ekor. Kalau petani hanya memiliki sapi satu ekor sudah
pasti tidak sejahtera, bikinlah menjadi 12 ekor. Di sinilah peranan perbankan
untuk membantu mereka sehingga petani bekerja dengan skala ekonomi yang menjamin
usahanya mensejahterakan mereka.
Ia mengemukakan perbandingan, dulu petani Thailand memiliki lahan rata-rata
hanya 0,6 hektar sekarang 1,1 hektar. Dulu petani Belanda hanya memiliki 14
hektar sekarang 75 hektar. Demikian juga Taiwan. Kalau Indonesia akan seperti
itu maka harus diprogram dan jangan sampai penyusutan lahan terjadi terus.
Mengutip analisis FAO, ia mengatakan, sejak tahun 1970-an Amerika Serikat
membantu kebutuhan gandum Indonesia, sehingga kita semakin akrab dengan berbagai
produk dari gandum. Kini, ketika gandum sudah menjadi kebutuhan pokok bangsa ini,
bantuan AS yang diatur melalui PL-480 itu telah dicabut. Karena kita tak bisa
memproduksi gandum, maka harus impor.
Mantan calon wapres ini menyebutkan impor beras tahun 1998 yang sampai 5,8
juta ton telah menjadikan Indonesia sebagai importir beras terbesar. Padahal 14
tahun sebelumnya mampu berswasembada. Begitu pula dengan biji kedelai yang
pernah swasembada, pada lima tahun terakhir rata-rata diimpor 0,8 juta ton per
tahun senilai 226,8 juta dolar AS setara Rp 1,8 triliun.
Menurut catatan DPP HKTI, tahun 1999 Indonesia yang dikenal gudangnya sayuran
mengimpor komoditas itu senilai 62 juta dolar AS, sedangkan ekspornya hanya 28
juta dolar AS. Tahun 1999 buah-buahan yang diimpor 55 juta dolar AS, sedangkan
ekspornya 19 juta dolar AS.
Selama lima tahun terakhir rata-rata per tahun membeli gula impor 1,5 juta
ton. Padahal semasa penajajahan Belanda kita adalah eksportir gula terbesar
nomor dua di dunia. "Sekarang kita juga mengimpor sapi sekitar 400.000 ekor
per tahun. Padahal tahun 70-an kita masih menjadi eksportir sapi,'' kata mantan
mentrans dan PPH ini.
Dia mengingatkan, saat ini Indonesia sebenarnya dalam keadaan rawan pangan
karena produksi pangan tak mencukupi untuk penduduknya. "Jadi, bukan karena
tak ada pangan tetapi karena sudah tergantung pada luar negeri. Mereka seperti
tidak ingin Indonesia memiliki kemandirian dalam bidang pangan.''
Ia mengajak belajar dari pengalaman negara-negara lain untuk membangun
kemandirian pangan itu. Seperti, India 25 tahun yang lalu tidak memiliki pabrik
gula. Selama itu mereka mengenakan bea masuk yang tinggi sehingga harga gula di
negara itu cukup tinggi. Harga yang bagus itu membuat petani mau menanam tebu
dan pengusaha mau membuat pabrik.
Cina negara besar pun bisa memenuhi kebutuhan pangannya. Sejak ratusan tahun
lalu sudah memahami masalah yang dihadapi dengan jumlah penduduk terbesar. Cina
dibelah dua oleh sungai, di bagian utara pangannya dipenuhi dengan gandum, di
selatan penduduknya makan kwetiau dan bihun yang bahan bakunya beras.
Sebaliknya, kita tidak bisa menanam gandum namun sudah menjadi pemakan mie
yang bahan bakunya gandum. Ini yang menghamburkan devisa karena kita mengimpor
gandum dalam jumlah yang besar sementara kita mempunyai potensi pangan yang
besar seperti jagung, ubi, dan sagu.
Pertanian harus dibuat menarik dengan cara membuat harga produk pertanian
yang menggairahkan petani. Harga harus menguntungkan petani karena dengan
keuntungan itulah petani bisa mengolah lahan. Kebijakan harga produk pertanian
murah harus diubah karena tidak mendukung. Maka ia menyambut gembira pernyataan
Ibu Presiden yang akan menaikkan bea masuk pangan impor. Ini akan membuat harga
produk pertanian membaik, yang sudah pasti menjadi insetif bagi petani.
Selain itu, menurutnya, Indonesia perlu membuka areal pertanian baru seperti
di Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau dan lain-lain.
Tempat itu memungkinkan dibikin areal yang luas agar kepemilikan lahan per
petani makin luas. Kemudian memanfaatkan savana-savana yang berpotensi untuk
peternakan di Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor yang saat ini banyak yang
terbengkalai.
Ia mengemukakan rekomendasi FAO yang menunjukkan produksi dunia akan membaik
karena produksi pangan lebih besar dari pada pertambahan penduduk dunia. Tetapi
pertambahan produksi yang tinggi itu terjadi di negara maju, bukan di negera
berkembang. Impor pangan negara berkembang malah akan meningkat dari sekitar 170
juta ton pada tahun 1995 menjadi 300 juta ton pada tahun 2030.
Di situ ia melihat, lembaga internasional dalam menentukan kebijakannya
dipengaruhi oleh kepentingan negara-negara maju. Oleh karena itu ia tidak
percaya kalau mereka akan memberi perhatian pada masalah kemandirian pangan
negara berkembang.
“Membangun kemandirian pangan itu adalah masalah kita yang harus diupayakan
oleh kita sendiri. Mereka selalu melihat Indonesia dengan jumlah penduduk 210
juta sebagai pasar yang besar sehingga tidak ingin Indonesia mandiri. Jangan
harap mereka akan memandirikan kita,” tegasnya.
Sebenarnya, sampai tahun 1984 Indonesia sudah mempunyai politik pertanian
yang kuat dan baik. Sejak itu, setuju atau tidak setuju, Indonesia telah
mencapai swasembada beras. Itu yang direncanakan sejak 20 tahun yang lalu.
“Kita membangun irigasi, waduk, mengembangkan benih unggul dan lain-lain. Kita
juga juara dalam perkebunan kelapa sawit,” ungkapnya.
Akan tetapi kemudian terasa setiap ganti pemerintahan ganti kebijakan. Ada
pernyataan pejabat yang jelas didengar oleh rakyat, kalau beras luar negeri
murah kita impor saja. Terus ada yang mengatakan, kalau tanaman tebu tidak lagi
menguntungkan tanam saja tanaman lain. Sekarang kita dengar Ibu Megawati mau
kembali ingin membangun kemandirian pangan. Menurutnya perlu ditetapkan
kebijakan politik pertanian yang dipertahankan dalam jangka panjang supaya jadi
acuan terus menerus walau pemerintah berganti. Kalau tidak, kebijakan akan
bolak-balik dan berganti-ganti.
Ia mengemukakan empat kebijakan yang perlu dilaksanakan. Pertama, menjaga
agar harga produk pertanian cukup baik yang menjamin keuntungan untuk petani.
Kedua, pemerintah harus memprogramkan pembukaan lahan baru karena pertambahan
penduduk. Selama ini yang terjadi lahan pertanian menyusut. Ketiga, ada upaya
yang terencana untuk memperluas areal petani per keluarga. Keempat, sumber
pembiayaan yang disalurkan ke petani harus diperbesar.
Menurutnya, struktur perdagangan komoditas pertanian di Indonesia mengalami
disparitas harga yang begitu tinggi. Ambil contoh, sayur produksi petani di
Ciawi sampai ke supermarket di Jakarta harus melalui lima mata rantai.
Dulu idealnya mata rantai itu ditangani Koperasi Unit Desa sehingga
keuntungannya sebagian besar untuk petani. Koperasi itu yang jadi pengumpul dan
yang jadi penjual hingga hanya satu tangan sehingga keuntungan jatuh ke petani.
Akan tetapi pendirian KUD yang menelan biaya sangat besar sampai sekarang belum
mampu menjadi unit ekonominya petani. Ini sangat disayangkan sekali.
Untuk memperjuangkan nasib petani, kedaulatan petani, dan kesadaran petani
mengenai eksistensi dirinya, ia melihat tumbuhnya organisasi petani di daerah
yang bersifat lokal dan sejenis seperti petani tebu, cengkeh, karet dan
lain-lain, lebih efektif ketimbang HKTI. Organisasi petani seperti HKTI ini
terlalu besar. Oleh karena itu sedang dipersiapkan perubahan AD/ART untuk
menyesuaikan paradigma baru ini. HKTI itu lebih baik menjadi federasi saja, yang
penting dan kuat itu organisasi petani lokal dan per komoditas seperti petani
tebu di Kudus atau petani tomat di Cipanas.
Petani meski jumlahnya besar namun secara politik dan ekonomi lemah. Ambil
contoh, ketika subsidi pupuk dicabut dan pengurangan subsidi kredit tidak ada
kekuatan politik yang membelanya. Ini beda jauh dengan pedagang-pedagang yang
memiliki lobi kuat ke pejabat-pejabat.
Pergulatan Hidup
Ia seorang yang telah menjalani pergulatan hidup dalam berbagai kegiatan. Mulai
dari merintis usaha lalu jadi pengusaha, menteri, dan mejadi petani. Ia melihat
dalam hidup ini tidak ada orang yang tahu tentang masa depannya. Tetapi, dalam
ketidaktahuan itu yang harus dilakukan setiap orang adalah bekerja
sebaik-baiknya dimana dan kemana pun dia berada. Jadi petani jadilah petani yang
baik. Jadi pengusaha jadilah pengusaha yang baik.
Ketika mahasiswa, gara-gara situasi politik, antara lain karena dia aktif
dalam Laskar Soekarno di Bandung, kuliahnya di Jurusan Teknik Sipil ITB nyaris
terbengkalai karena ia terkena skorsing. Padahal, tinggal dua mata kuliah saja
yang tertinggal. Lalu, menyadari bahwa dirinya tak lagi mungkin bekerja di
pemerintahan, ia kemudian berdagang bawang putih dan kedelai dari Malang ke
Jakarta, selain bekerja di perusahaan kayu jati dan mebel.
Tentu saja, langkah ini jauh dari harapan Soewondo, ayahnya, yang
menginginkan agar ia mengikuti jejaknya sebagai seorang dokter. Dr. Soewondo
sendiri pernah menjadi wakil gubernur DKI di zaman Bung Karno. "Saya
sendiri, waktu remaja ingin menjadi pelaut," kata suami Ratih Jodi
Gondokusumo, yang bekerja sebagai notaris ini.
Dengan bekal Rp 7,5 juta, pada 1969, ia mendirikan sebuah CV yang bergerak di
bidang pekerjaan bangunan, yang kemudian ditingkatkan menjadi PT Bangun Cipta
Sarana. Usahanya kemudian kian beragam ke usaha perdagangan atau keagenan
alat-alat berat, sehingga ia pun mendiversifikasikan perusahaannya. Maka
lahirlah PT. Asniaga Sarana. "PT. Bangun Cipta Sarana lebih ke properti,
termasuk kompleks perumahan Kemang Pratama, selain pemilik jalan tol
Cawang-Cikampek, dan tol Bandara Cengkareng sampai Kebon Jeruk," terangnya.
Dalam usia PT. Bangun Cipta sudah 33 tahun, dua puluh tahun dari sejak
berdiri ia memimpin, dan sepuluh tahun ia lepaskan saat menjadi menteri. Selama
ia tinggalkan, perusahaan jauh lebih baik. Itu berkat pengkaderan yang baik
sebelumnya. “Pada waktu saya tinggalkan, mereka berdebat untuk mengambil
keputusan, karena merasa level-nya sama, dan putusannya ternyata bisa lebih
bagus,” katanya. Tidak hanya manajemen yang lepas, saham pun tidak dipegang.
Sepuluh tahun benar-benar ia serahkan pada manajemen supaya dikelola dengan baik.
Sebab ia tidak mau ada pertentangan dalam batin. Menurutnya, paling enak kalau
kita hidup sama dengan apa yang kita rasakan dan sama dengan apa yang kita
pikirkan.
Menurutnya, bahayanya ada pendiri dalam manajemen, menjadikan para staf dan
manajemen cenderung mengiyakan. Cenderung mengikuti, bukan berdebat. Itulah yang
terjadi pada founders almarhum Hasyim Ning, Dasaad, William Soeryajaya, Soedarpo
dan Ciputra.
Maka setelah lengser dari jabatan menteri, ia kembali memimpin dua grup
perusahaannya, yakni di Bangun Cipta Sarana, dan Artha Guna Cipta Sarana (bergerak
dalam investment company dan pemilik Jakarta Design Center, Apartemen Semanggi,
serta tambak ikan di Jawa Tengah dan kebun kelapa sawit di Sumatera Selatan),
tidak dalam posisi direktur utama tapi dalam posisi Presiden Komisaris.
Ketika terjadi krisis ekonomi, ia bersyukur grup usahanya tidak mempunyai
pinjaman dalam dollar. Sehingga perusahaannya selamat dari badai krisis ekonomi
itu.
Tentang kebijakan tidak meminjam dolar tersebut, ia merendah bukan karena ia
pintar, tapi lebih karena perlindungan Tuhan. Dalam bisnis itu ada yang masuk
dalam perhitungan dan ada juga yang disebut luck, keberuntungan. Orang Cina
bilang, hoki. Di samping itu, ada perlindungan Tuhan.
Ia memberi contoh nyata ketika, saat mengerjakan proyek tol Cawang-Cikampek,
hamper saja mereka mengganti pinjaman rupiah dalam bentuk dollar. Ketika itu,
semua orang menganjurkan meminjam dalam bentuk dollar, karena bunganya lebih
rendah. Direksi sudah mau pinjam dollar, bank pun sudah setuju. Tapi ia memberi
berbagai pertimbangan kepada direksi, dan akhirnya tidak jadi. “Karena itu
kita jadi selamat,” katanya.
Ia mengakui dalam perjalanannya menjadi pengusaha tidak selamanya berjalan
mulus.
Ia menjadi pengusaha selama 20 tahun, sejak 1968 sampai sebelum menjadi menteri
tahun 1988. Setelah itu selama 10 tahun menjadi menteri. Lalu kembali lagi
menjadi pengusaha. Tidak selamanya berjalan mulus. Pernah juga hampir bangkrut.
Satu hal yang bisa ia petik pelajaran dari segala peristiwa itu adalah setiap
pukulan selama tidak membuat Anda mati, maka akan membuat Anda berkembang. Jadi
betapa pun beratnya jangan takut untuk menghadapi kesulitan. Kesulitan itu yang
biasanya membuat seseorang akan sukses.
Bedanya orang yang sukses dengan yang gagal adalah orang sukses setiap kali
mendapat pukulan dia maju menghadapinya. Orang yang gagal adalah setiap kali
menghadapi pukulan dia minggir. Jadi, para pengusaha sukses, seperti Soedono
Salim, William Soeryajaya, Arifin Panigoro, dan pengusaha yang lebih besar lagi
di luar negeri juga mereka mengalami naik dan turun, seperti juga di bidang
politik. Up and down adalah bagian dari kehidupan. Jangan sampai orang karena
terkena pukulan lalu minggir. Itu salah!
Demikian juga ketika ia berada dalam birokrasi. Ia duduk di birokrasi selama
10 tahun sebagai menteri. Di situ ia merasakan betul menjadi menteri di negara
seperti Indonesia ini adalah peluang bagi seseorang untuk memberikan pengabdian
yang luar biasa besarnya. Karena peranan dan kekuasaan menteri itu besar sekali
dalam mewarnai perkembangan masyarakat.
Jadi, menurutnya, sangat sayang kalau ada menteri yang tidak memanfaatkan
peluang yang diberikan sejarah ini untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi
perubahan, melakukan penyempurnaan-penyempurnaan. Sebab kewenangan menteri itu
luar biasa. Memimpin suatu departemen dengan disediakan anggaran yang mencapai
trilyunan rupiah.
Maka, bayangkan saja kalau anda memegang trilyunan rupiah, tapi tidak berbuat
sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Yang dilakukan bukan membuat perbaikan
kepentingan masyarakat, tapi habis dikorup kan kacau itu. Menjadi menteri adalah
kehormatan yang sangat tinggi sekaligus di dalamnya melekat tanggung jawab untuk
melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara. Peluang untuk
melakukan perbaikan dan perubahan itu begitu besar.
Sebelum menjabat menteri, ia tidak pernah membayangkan peranan menteri seperti
itu. Tapi setelah menjadi menteri, baru ia sadar bahwa ternyata jabatan itu
memberikan peluang yang luar biasa untuk berguna bagi masyarakat dan negara.
Maka waktu ia menjadi Menteri Negara Perumahan, ia mengeluarkan kebijakan rumah
sangat sederhana. Karena rakyat tidak mampu memiliki, lalu kredit pemilikan
rumah dengan bunga yang murah, membangun Tabungan Perumahan Pegawai (Taperum)
dan berbagai kebijakan termasuk peremajaan pemukiman nelayan, peremajaan
pedesaan tertinggal dan sebagainya. Lalu, ketika menjadi menteri transmigrasi ia
mengembangkan sapi di Marauke dan pulau-pulau lain.
Ketika diangkat menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat pada Maret 1988,
banyak orang terpereranjat. Pasalnya, dengan menjadi menteri berarti ia akan
meninggalkan bisnisnya yang sedang berada dipuncak. Konsekuensi logis dari
kebersediaannya menjabat menteri adalah harus melepaskan semua jabatan penting
di beberapa perusahaan. Sebagai Direktur Utama di PT Bangun Tjipta, serta
jabatan komisaris Utama di 9 perusahaan ia tinggalkan.
Dan ternyata keputusannya untuk menerima jabatan menteri negara perumahan
rakyat mendapat dukungan dari para pelaku bisnis properti. Karena dengan melihat
latar belakangnya yang sangat sesuai dengan jenis pekerjaan pada kementerian itu.
Sejak tahun 1970 dengan bendera CV. Bangun Tjipta, ia telah mulai mengembangkan
proyek-proyek perumahan, building contractor dan developer. Hingga tahun 1972,
bentuk perusahaan Bangun Tjipta berubah dari CV ke perseroan, dan sejak itu pula
ia mulai mengembangkan proyek-proyek besar lain disektor properti. Beberapa
proyek yang pernah ditanganinya, antara lain Jakarta Disain Center (JDC) dan
Perumahan Kemang Pratama.
Disamping karir bisnis, insinyur Teknik Sipil ITB Bandung ini juga berkibar
di jalur organisasi dan politik. Ia pernah menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha
Muda Indonesia juga sebagai Ketua Umum Persatuan Pengusaha REI. Ia juga menjadi
anggota MPR RI dari tahun 1982 hingga 1998. Bahkan setelah jabatan Menteri
Perumahan Rakyat, periode 1993-1998 ia dipilih lagi menjadi Menteri Transmigrasi
dan Pemukiman Perambah Hutan. Dan sekarang ini ia dipercaya oleh para pengembang
anggota REI menjadi Anggota Dewan Pembina DPP REI dan Ketua Komite
Restrukturisasi Utang Pengembang.
Ia boleh juga disebut sebagai sosok kontroversial. Saat pengganyangan
terhadap Bung Karno, dia adalah mahasiswa ITB yang menjadi Wakil Komando Laskar
Soekarno. Tapi pada era Presiden Suharto, ia diangkat sebagai menteri dalam dua
kali kabinet.
Namun, dengan posisinya itu, tak membuatnya ragu-ragu menolak rencana
penggusuran rumah susun yang dicanangkan keluarga Cendana, Titiek Prabowo dan
Sudwikatmono, yang sudah berbekal 'instruksi sakti' Presiden Suharto. Selama
menjadi menteri pun, Siswono yang mantan aktivis mahasiswa itu justru makin
memperlihatkan sikap dasarnya, yaitu berpihak pada kebenaran dan keadilan. Sikap
itu membuatnya makin erat dengan label kritis. Ia dianggap anggota kabinet
perkecualian bersama Sarwono Kusumaatmaja. Walaupun oleh para pendukung rezim
Suharto, sikap Siswono dinilai tidak pas, karena ia pejabat pemerintah.
Selama menjabat menteri, ia tergolong bersih dari KKN. Padahal peluang untuk
itu cukup besar. Bahkan saat menjabat Menteri Transmigrasi, ia melarang
perusahaanya menjadi rekanan. Padahal sebelumnya PT Bangun Cipta adalah rekanan
di Departemen Transmigrasi, dan sudah beberapa kali membuka lahan untuk
transmigrasi.
Pejabat yang bersikap seperti itu sangat langka, terutama pada era Orde Baru.
Bahkan banyak yang justeru mengandalkan fasilitas. Sementara ia pun bisa
menghindari pemberian fasilitas, termasuk pada keluarga Cendana.
Apa mungkin ia bisa menolak Cendana? Menurutnya, Pak Harto itu kalau kita
jelaskan dengan baik, dengan argumen yang kuat, beliau bisa menerima. Tetapi,
yang terjadi, terlalu banyak pejabat yang menjilat. Pejabat yang mencari muka,
itu yang terjadi.
Ia memberi contoh, ketika tahun kedua ia menjadi Menteri Perumahan Rakyat.
Ada sebuah surat yang ditandatangani oleh Titik Prabowo sebagai direktur utama,
dan Sudwikatmono sebagai Preskom. Mereka meminta rumah susun Kebon Kacang
di-ruislag seluas tiga hektar. Mereka ingin menggabung dengan bangunan bank yang
sudah ada di Jalan M. Husni Thamrin. Lalu ia menghadap presiden, dan beliau
mengatakan, "Rumah susun yang di Kebon Kacang planologinya diubah."
Wah! Lalu, ia membuiat laporan lengkap dengan berbagai alasan. Di antaranya,
bahwa rumah susun Kebon Kacang itu baru diresmikan tahun 1983, jadi baru berusia
tujuh tahun; kalau dalam waktu tujuh tahun ada peruntukan yang diubah, nanti
akan timbul kesan bahwa pemerintah tidak well planner, program pemerintah itu
tidak berjalan dengan baik. Selain itu, di rumah susun itu ada prasasti yang
ditandatangani oleh presiden. Lagi pula perubahan peruntukan itu tidaklah
menguntungkan untuk masyarakat bawah, kecuali kalau presiden mempunyai rencana
lain. Maka ia menyarankan untuk tidak dilakukan penggusuran.
Menerima laporan itu, Presiden Soeharto terlihat kaget, karena biasanya tidak
ada yang mau begitu. Biasanya, kalau presiden sudah omong, semua selalu
mendukung, apalagi keluarganya yang maju. Karena orang itu tidak punya
kepercayaan diri untuk memperoleh suatu kedudukan.
Beberapa saat presiden diam. “Saya juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan.
Mungkin dia menilai, saya aneh. Tapi akhirnya presiden setuju untuk tidak
dilaksanakan penggusuran. Jadi, saya plong!” kenang Siswono.
Sementara pejabat lain waktu itu lebih suka menurut saja. Maka Siswono pernah
menyebut banyak pejabat era itu yang sakit. Tapi menurutnya dalam empat tahun
reformasi, lebih parah lagi sakitnya. Waktu itu, kondisi belum separah ini.
Orang masih pesta mabuk, mabuk sukses. Kelakuan pejabat-pejabat kita juga tidak
memikirkan kepentingan rakyat, lebih mementingkan diri sendiri. Waktu Thailand
merosot, kita masih bisa mengatakan fundamental ekonomi kita kuat. Saya kesal
waktu itu. Saya katakan, kita ini sakit, pejabatnya sakit, rakyatnya juga sakit.
Bagaimana rakyat tidak sakit? Di setiap jalan polisi ambil uang, dan semua
orang melihat tapi diam. Itu kan suatu penghinaan terhadap aparat negara dan
dilakukan oleh aparat negara itu sendiri, ditonton oleh rakyat dan rakyat
mendiamkan.
Ia menyaksikan, ada seorang Dirjen pensiun. Dia tidak punya apa-apa. Malah
banyak orang mengatakan, dia bodoh. Lima tahun jadi dirjen, tidak punya apa-apa.
Orang jujur jadi dianggap bodoh. Sementara, ada pejabat eselon dua, punya rumah
mentereng, punya mobil lima, dan anak-anaknya sekolah di luar negeri. Dia
dibilang hebat. Maka, ia menyebut, semuanya sakit.
Ia juga pernah mengkritik Presiden Habibie tidak hemat. Sebab waktu masih
menteri saja sudah beli jet pribadi seharga 35 juta dollar AS.
Karena itu dari awal, ia sudah mengatakan, salah satu kunci agar bangsa ini
maju harus membangun aparat yang bersih dari korupsi dan kolusi. Untuk itu, ia
menyarankan setiap pejabat harus me-reclear kekayaannya sebelum menjabat. Baik
itu menteri atau gubenur, bupati, dan dirjen. Setelah menjabat juga harus
melaporkan kekayaannya. Ketika itu, orang jadi ramai. Padahal, di luar negeri,
itu hal yang biasa. Di Malaysia, biasa. Apalagi di Jepang. Maka ia sangat
mendukung terbentuknya KPKPN.
Kontroversi terus mewarnai langkahnya dalam munas luar biasa Golkar Juli 1999
untuk pergantian pengurus. Ia bersama Sarwono, Try Sutrisno dan Edy Sudrajat
dituduh sebagai Suhartois yang anti reformasi. Sementara Akbar Tanjung bersama
Habibie, Feisal Tanjung dan Abdul Gafur adalah kaum anti Suharto yang pro
reformasi. Buat orang yang paham, tuduhan itu memang mirip dagelan. Riwayat
Siswono sendiri tak pernah menunjukkan sebagai Suhartois, apalagi anti-reformasi.
Sementara Try Sutrisno yang berada satu kubu dengannya, setidaknya adalah wakil
presiden hasil 'fait a ccompli' ABRI yang tidak menghendaki wapres pilihan
Suharto, yaitu BJ Habibie.
Mungkin, begitulah politik, yang bagi sebagian orang kotor. Tapi Siswono yang
sejak muda tak pernah jauh dari politik, tampaknya tak sempat kehilangan
kepribadian. Ia masih bisa menulis puisi dan cerpen. Bahkan saat jadi menteri,
ia ikut menulis buku Rumah untuk Rakyat. Sebelumnya, saat masih jadi pengusaha,
dia tuangkan konsepnya perihal hubungan etnik Tionghoa dengan penduduk setempat
dalam buku laris Warga Baru: Kasus Cina di Indonesia.
Setelah kerusuhan Mei 1998, buku yang terbit tahun 1985 itu, sempat jadi
best-seller. Mengenai peristiwa 13 dan 14 Mei itu, ia tidak percaya kalau
kerusuhan itu spontan. Ia percaya peristiwa itu sengaja disulut, dan reaksinya
di luar dugaan, yang akhirnya menjadi spontan. Sulit ia membayangkan terjadi
peristiwa yang sebegitu brutalnya, termasuk pemerkosaan dan penjarahan bisa
terjadi secara spontan.
Kalau melihat peristiwa-peristiwa yang lalu, yang terjadi hanya perusakan dan
pelemparan batu. Rasa-rasanya, itu batas spontan yang bisa diterima. Tapi,
setiap kali kita melihat masalah Cina, selalu dikaitkan dengan huru-hara. Mulai
dari Situbondo, Tasikmalaya, Solo, Pekalongan, Cirebon, Medan, selalu dikaitkan
dengan huru-hara.
Tahun-tahun terakhir ini, juga harus diakui terjadi penyimpangan-penyimpangan
yang dilakukan oleh kelompok nonpri (Untuk selanjutnya, disebut etnik Tionghoa,
Red.) seperti Eddy Tanzil yang membobol bank sekian triliun. Sebelumnya juga ada
Robby Tjahjadi, penyelundup mobil mewah yang tiba-tiba bisa jadi konglomerat.
Lalu Direktur Bank BHS juga lari. Dan banyak lagi.
Jadi, masyarakat menggeneralisasi bahwa korupsi dan kolusi selalu ada
Cina-nya. Padahal kita sama-sama tahu bahwa banyak juga golongan Cina yang
justru kritis dan membenci praktek-praktek korupsi dan kolusi, seperti Kwik Kian
Gie dan Christianto Wibisono. Mereka sangat kritis. Tapi yang berkembang adalah
stereotipe bahwa Cina jelek semua. Padahal, banyak juga pedagang Cina yang
berkembang dengan wajar, dari bawah, hingga bisa menjadi pengusaha yang sukses.
Banyak pengusaha Tionghoa yang sukses, lalu membangun perumahan-perumahan di
areal kumuh, seperti di Pluit sana. Konsentrasi yang mengumpul, sementara areal
di luarnya adalah lingkungan kumuh, itu membahayakan secara sosial.
Ia selalu menganjurkan agar rekan-rekan Tionghoa itu jangan ngumpul di Pecinan
atau yang seperti itulah. Enggartyasto Lukito misalnya, beli rumah di Cilandak,
itu lebih sehat. Kalau konsep zaman Belanda dulu, memang penghunian
dikelompokkan. Ada Kampung Jawa, Kampung Ambon, Kampung Arab, Pecinan, Kampung
Bugis, dan lain-lain. Sekarang, di Kampung Ambon, banyak orang Sunda dan Padang.
Orang Ambon menyebar ke mana-mana. Nah, harusnya Cina-Cina ini juga menyebar.
*** Ensiklopedi Tokoh Indonesia, dari berbagai sumber